Rabu, 31 Maret 2010

Memahami “ayat-ayat misteri dalam al-quran”

DALAM Kitab Suci Al-Qur’an, Allah SWT sering bersumpah dengan berbagai fenomena alam semesta dengan tujuan agar manusia memperhatikan dan menalari hal-hal yang disumpahkan-Nya itu. Ada beberapa “ayat misteri” yang menarik untuk dikaji sebab sampai kini belum jelas tafsiran dan pemahamannya, yaitu Surat
• An-Nazi`at 1–8;

• Al-`Adiyat 1–5;

• Adz-Dzariyat 1–6;

• Al-Mursalat 1–15.
Kita menyadari bahwa ilmu yang diberikan Allah kepada manusia sangat sedikit (Al-Isra’ 85), tetapi ilmu pemberian Sang Khaliq harus kita gunakan semaksimal mungkin untuk menafakkuri alam semesta ciptaan-Nya
(Ali Imran 190-191).
An-Nazi`at 1 – 8

“Demi yang tercabut dahsyat! Demi energi yang energetik!”
Allah bersumpah dengan penciptaan alam semesta yang dilukiskan sebagai sesuatu yang tercabut (nazi`at) dengan dahsyat (gharqan), melalui proses “Big Bang” (Dentuman Akbar) yang melibatkan energi (nasyith) yang luar biasa hebatnya. Hal ini dipertegas dalam Surat Al-Anbiya’ 30: “Tidakkah orang-orang kafir itu tahu bahwa langit dan bumi mulanya berpadu lalu Kami pisahkan keduanya.”
“Demi yang beredar di garis edar, lalu berlomba saling menjauhi!”
Kemudian Allah memerintahkan kita untuk merenungi komponen alam semesta berupa galaksi-galaksi yang beredar (sabaha) pada orbitnya masing-masing serta saling menjauhi (sabaqa) satu sama lain sebagai konsekuensi dari proses Big Bang yang melahirkan alam semesta.
“Demi yang mengatur Urusan!”
Baru pada abad ke-20 para ilmuwan mengetahui bahwa seluruh urusan alam semesta ini diatur oleh Allah melalui empat macam interaksi:
• Pertama, interaksi gravitasi yang bekerja pada seluruh partikel yang mempunyai massa, mengatur tarik-menarik benda-benda, mulai dari meneguhkan kita pada permukaan bumi sampai kepada pembentukan tatasurya dan galaksi.

• Kedua, interaksi elektromagnetik yang bekerja pada seluruh partikel yang bermuatan listrik, mengatur seluruh reaksi kimia, mulai dari terbentuknya atom sampai kepada proses berpikir dalam otak manusia.

• Ketiga, interaksi kuat yang mengikat partikel-partikel penyusun inti atom, agar atom-atom penyusun alam ini stabil.

• Keempat, interaksi lemah yang mengatur perubahan suatu atom menjadi atom lain, agar terbentuk unsur-unsur yang beraneka jenisnya, mengatur perubahan hidrogen menjadi helium pada matahari dan bintang-bintang sehingga tetap memancarkan cahaya.
“Masa tatkala bergetar sesuatu yang bergetar, lalu diikuti oleh masa pengganti, yaitu masa di saat hati berdebar-debar.”
Seluruh partikel di alam semesta memiliki sifat gelombang atau getaran, yang dalam ilmu fisika disebut dualisme partikel-gelombang, sehingga masa dunia fana ini merupakan “masa tatkala bergetar sesuatu yang bergetar” (yauma tarjufu r-rajifah). Masa dunia fana ini akan diikuti oleh masa pengganti (radifah), yaitu kehidupan akhirat yang abadi, pada saat hati berdebar-debar menanti keputusan Pengadilan Ilahi atas kondite selama berada di dunia fana.
Al-`Adiyat 1 – 5
“Demi yang berlawanan melesat cepat, lalu bunga-bunga api terpancar, lalu sesuatu yang lain (materi baru) terjadi”.
Ketika ilmu pengetahuan modern belum berkembang, benda yang paling mudah dikenali sebagai sesuatu yang melesat cepat (dhabhan) adalah kuda, sehingga `adiyat sering ditafsirkan “kuda”, meskipun orang Arab tidak pernah menyebutkan hewan itu dengan istilah `adiyat.
Kata `adiyat berarti “yang berlawanan”, dari tiga huruf `ain-sin-alif, satu akar kata dengan `aduw (lawan), a`da’an (bersengketa), dan `udwan (permusuhan) yang juga dipakai dalam Al-Qur’an. Pada lima ayat pertama Surat Al-`Adiyat, Allah bukan membicarakan kuda, melainkan mewacanakan penciptaan alam semesta!
Pada mulanya alam semesta hanya berwujud energi. Lalu sebagian energi mengalami transformasi menjadi materi, sesuai dengan Persamaan Einstein, berupa partikel dan antipartikel (berlawanan muatan dengan partikel), yang pada gilirannya berdiferensiasi menjadi quark dan antiquark serta lepton dan antilepton. Setiap proses menghasilkan pasangan partikel dengan muatan yang berlawanan. Inilah partikel-partikel al-`adiyat yang saling berbenturan dengan kecepatan melesat (dhabhan), sehingga bunga-bunga api (al-muriyat), yaitu panas dan cahaya, terpancar (qad-han). Maka terjadilah (shubhan) partikel-partikel baru (al-mughirat, dari kata ghayara, “berubah”, atau ghair, “lain”), yaitu hadron-hadron, terutama proton dan netron, yang terbentuk dari quark-quark. Kemudian proton dan netron membentuk al-mughirat berikutnya berupa inti atom.
“Maka berhamburan dengannya bagian yang kecil, lalu ke tengah dengannya bagian massa yang besar.”
Inti atom dan elektron-elektron (salah satu jenis lepton) membentuk atom yang menjadi partikel dasar seluruh materi jagat raya. Dalam pembentukan atom, elektron-elektron yang bermassa ringan (naq`an) berhamburan (atsar) menempati lintasan-lintasan tertentu, sedangkan inti atom sebagai kumpulan massa terbesar (jam`an) menempati posisi di tengah-tengah (wasath). Elektron-elektron yang bermuatan negatif senantiasa melakukan thawaf mengelilingi inti atom yang bermuatan positif.
Formulasi “fa atsarna bihi naq`an, fa wasathna bihi jam`an” ternyata merupakan pola grand design Allah dalam pembentukan struktur isi jagad raya. Sebagai contoh, pada pembentukan tatasurya planet-planet sebagai naq`an (komponen-komponen yang kecil) berhamburan menempati orbit-orbit tertentu dan harus melakukan thawaf mengelilingi matahari sebagai jam`an (kumpulan massa terbesar) yang menempati posisi di tengah-tengah tatasurya.
Jadi, alam semesta ini hanya eksis dan stabil lantaran gerakan thawaf! Itulah sebabnya para pengunjung Rumah Allah di Makkah wajib melakukan thawaf, meniru tingkah laku elektron-elektron dan planet-planet, sebagai simbol ketunduk-patuhan makhluk terhadap aturan-aturan Ilahi.
Adz-Dzariyat 1 – 6
“Demi yang halus teramat halus, yang membawa beban, yang mengalir (bertransmisi) mudah, yang membagi-bagi Urusan!”
Jika ayat-ayat Allah yang tertulis dalam kitab suci diwahyukan melalui para Rasul yang berupa manusia (al-mursalin, plural dalam bentuk maskulin atau mudzakkar), maka ayat-ayat Allah yang tidak tertulis (ayat-ayat Kauni di alam semesta) diwahyukan melalui para rasul yang berupa partikel (al-mursalat, plural dalam bentuk feminin atau mu’annats).
Keempat macam interaksi yang mengatur alam semesta ditransmisikan oleh partikel-partikel kuantum. Interaksi elektromagnetik ditransmisikan oleh foton, interaksi kuat oleh gluon, interaksi lemah oleh boson madya, dan interaksi gravitasi oleh graviton. Partikel-partikel kuantum pembawa interaksi ini merupakan ‘rasul-rasul’ yang mengemban ayat-ayat Kauni, dan dalam Al-Qur’an mereka disebut adz-dzariyat (“yang halus”, satu akar kata dengan dzarrah, “partikel”). Namun partikel-partikel kuantum yang sangat halus itu membawa beban yang berat berupa interaksi yang mengatur alam semesta. Mereka bertransmisi dengan mudah, serta membagi-bagi urusan dalam mengelola empat macam interaksi di jagat raya.
“Sungguh, yang dijanjikan kepadamu pasti benar, dan sungguh Keputusan itu pasti berlangsung!”
Jika keempat partikel kuantum ini kelak “dipanggil pulang” oleh Allah, maka keempat macam interaksi di alam semesta dengan sendirinya tiada lagi, dan terjadilah Hari Yang Dijanjikan atau Hari Keputusan berupa kemusnahan alam semesta yang fana.
Al-Mursalat 1 – 15
“Demi para rasul pembawa keteraturan, lalu melaju dengan sangat laju”.
Para rasul (al-mursalat) itu adalah partikel-partikel kuantum yang mengatur interaksi di alam semesta. Mereka melaju dengan sangat laju, mengemban tugas Ilahi di jagad raya. Gluon membawa interaksi kuat, foton membawa interaksi elektromagnetik, boson madya membawa interaksi lemah, dan graviton membawa interaksi gravitasi.
“Demi yang meluas seluas-luasnya, lalu berkelompok-kelompok”.
Akibat penciptaan alam semesta melalui proses Big Bang, alam semesta sampai kini terus meluas atau berekspansi. Komponen-komponen alam semesta terbagi atas kelompok-kelompok, mulai dari planet, bintang, galaksi, superkluster, dan mungkin masih ada satuan kelompok lebih besar yang belum diketahui manusia.
“Demi yang menyampaikan peringatan, memberikan alasan atau ancaman”.
Sebagaimana alam semesta yang selalu tunduk-patuh kepada aturan Allah, manusia pun seharusnya tunduk-patuh kepada hukum Ilahi. Itulah sebabnya Allah mengutus para Rasul dari Nabi Adam a.s. sampai Nabi Muhammad s.a.w. untuk menyampaikan peringatan berupa alasan dan ancaman kepada umat manusia.
“Sungguh yang dijanjikan padamu pasti berlangsung”.
Para rasul yang berwujud partikel kuantum (al-mursalat) serta para Rasul dari kalangan manusia (al-mursalin) menyebarkan janji yang sama, yaitu Hari Kiamat (kemusnahan dunia fana) pasti akan berlangsung.
“Ketika bintang dipadamkan”.
Pada bintang-bintang (termasuk matahari kita) senantiasa berlangsung reaksi termonuklir, yaitu pengubahan atom hidrogen menjadi atom helium yang diatur oleh interaksi lemah. Jika interaksi lemah berhenti berfungsi, maka reaksi termonuklir pun terhenti, dan bintang-bintang (termasuk matahari kita) akan padam.
“Ketika langit dikacaukan”.
Interaksi yang meneguhkan benda-benda langit dalam orbit masing-masing adalah gravitasi. Jika gravitasi berhenti berfungsi, tentu langit menjadi kacau porak-poranda, sebab tidak ada lagi mekanisme tarik-menarik di antara benda-benda langit.
“Ketika gunung dilumatkan”.
Semua materi di jagad raya tanpa kecuali tersusun dari atom-atom. Inti atom dan elektron-elektron diteguhkan oleh interaksi elektromagnetik, sedangkan interaksi kuat meneguhkan proton dan netron dalam inti atom.
Jika kedua interaksi ini berhenti berfungsi, maka atom apa saja akan “bubar”, terurai menjadi quark-quark dan lepton-lepton yang bebas. Akibatnya, seluruh materi (termasuk gunung yang tinggi perkasa itu) akan menjadi lumat.
“Ketika para rasul sampai waktunya”.
Keempat interaksi yang mengatur alam semesta ini akan berhenti berfungsi pada saat para rasul berupa partikel-partikel kuantum, yaitu gluon, foton, boson madya dan graviton, “dipanggil pulang” oleh Allah Sang Pencipta.
“Sampai hari manakah mereka ditangguhkan?
Sampai Hari Kepastian. Dan tahukah kamu tentang Hari Kepastian? Celaka pada Hari itu mereka yang mendustakan!”. Partikel-partikel kuantum (al-mursalat) masih diberi kesempatan oleh Allah untuk mengemban interaksi yang mengatur alam semesta sampai Hari Kepastian (yaum al-fashl), yaitu masa di mana para pendusta kebenaran Islam akan celaka!
“Apakah selain agama Allah yang mereka cari? Padahal kepada-Nya telah Islam (tunduk-patuh) segala yang di langit dan di bumi, dengan sukarela dan terpaksa, dan kepada-Nya semua akan dikembalikan”
(Ali Imran 83).

Sumber:falahluqmanulhakiem.wordpress.com

0 komentar:

Posting Komentar

  © Blogger template 'Ultimatum' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP