Selasa, 29 Juni 2010

Doa Seorang Prajurit Untuk Anaknya

Sobat,mungkin selama ini kita tahu bahwa seorang prajurit itu terlihat sangar dan beringas sewaktu di medan perang.Tapi tahukan anda ada banyak prajurit di dunia ini yang beringas di medan perang tapi sangat menghamba pada tuhannya,sangat menyanyangi anaknya dan hal-hal lain yang tidak pernah kita sangka..
Dibawah ini adalah isi doa dari seorang prajurit yang sangat tangguh dan ditakuti pada masanya..
Cek it out.

Tuhanku, bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk
menyadari manakala ia lemah. Dan cukup berani untuk menghadapi
dirinya sendiri manakala ia takut. Manusia yang memiliki rasa bangga dan
keteguhan dalam kekalahan, rendah hati dan jujur dalam kemenangan.
Bentuklah puteraku menjadi seorang yang kuat dan mengerti, bahwa
mengetahui serta mengenal diri sendiri adalah dasar dari segala ilmu yang
benar.

Tuhanku, janganlah puteraku Kau bimbing pada jalan yan mudah dan
lunak. Biarlah Kau bawa dia ke dalam gelombang dan desak kesulitan
tantangan hidup. Bimbinglah puteraku. supaya dia mampu tegak berdiri di
tengah badai, serta berwelas asih kepada mereka yang jatuh.
Bentuklah puteraku. menjadi manusia berhati bening dengan cita-cita
setinggi langit. Seorang manusia yang sanggup memimpin dirinya sendiri,
sebelum memimpin orang lain.


Seorang manusia yang mampu meraih hari depan tapi tak melupakan
masa lampau. Dan setelah segala menjadi miliknya semoga puteraku
dilengkapi hati yang ringan untuk bergembira serta selalu bersungguhsungguh
namun jangan sekali-kali berlebihan.

Berikan kepadanya kerendahan hati. kesederhanaan dan keagungan yang
hakiki, pikiran cerah dan terbuka bagi sumber kearifan dan kelembutan
dari kekuatan yang sebenarnya sehingga aku, orang tuanya, akan berani
berkata: "hidupku tidaklah sia-sia"


Sobat,tahukan anda siapa prajurit yang saya maksud yang telah memanjatkan doa dengan begitu indah nya..Dia lah Jendral Douglas Mac Arthur.Jendral yang kemampuan dan pengalaman di medan perangnya tidak di ragukan lagi (Perang Dunia I,II,Perang korea),dia yang memimpin tentara Amerika yang mengakibatkan Jepang menyerah pada perang dunia II..

Silahkan renungi sendiri isi doa nya dan tanyalah pada diri kita selaku ayah dari anak-anak kita,"apakah saya sudah menyiapkan anak saya untuk masa depannya kelak?".
Selengkapnya...

Selasa, 22 Juni 2010

Tangisan Untuk Adikku

Saya punya sebuah kisah yang sangat menarik sekaligus mengharukan untuk anda.
Kisah ini bercerita tentang kasih sayang yang sangat luar biasa dari seorang adik untuk kakak nya yang tercinta.
Semoga kisah ini bisa memberi angin segar dari corat-marut nya akhlak di negara kita yang tercinta ini.Amin..

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari
demi hari. orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung
mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun
lebih muda dariku. Yang mencintaiku lebih daripada aku mencintainya.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua
gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh
sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku
dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di
tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut
untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau
mengatakan. "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba. adikku
mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah. aku yang melakukannya!"
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah
begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai
Beliau kehabisan napas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu
bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah
sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa
mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu
malu!"



Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya
penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di
pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung.
Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata. "Kak,
jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian
untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut
masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang
adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku
berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP. ia lulus untuk masuk
ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk
masuk ke sebuah universitas provinsi. Malam itu. ayah berjongkok di
halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya
mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang
begitu baik.hasil yang begitu baik" Ibu mengusap air matanya yang
mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita
bisa membiayai keduanya sekaligus?"
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah,
saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak
buku."
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya.
"Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan
jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan
menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!"
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk
meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke
muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki
harus meneruskan sekolahnya. Kalau tidak ia tidak akan pernah
meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan
untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku
meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit
kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku
dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke
universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu
uang."
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis
dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku
berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang
adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi
konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga. Suatu hari. aku sedang
belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan,
"Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar,
dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen
dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman
sekamarku kamu adalah adikku?"
Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang
akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka
tidak akan menertawakanmu?"
Aku merasa terenyuh. dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu
debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku,
"Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga!
Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu.
la memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat
semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki
satu."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam
pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu. ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah
telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang,
aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu
menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"
Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal
untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada
tangannya? la terluka ketika memasang kaca jendela baru itu."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus,
seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada
lukanya dan membalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
'Tidak, tidak sakit. Kamu tahu. ketika saya bekerja di lokasi konstruksi,
batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak
menghentikanku bekerja dan." Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku
membalikkan tubuhku memunggunginya. dan air mata mengalir deras
turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku
mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami. tetapi
mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan
dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak
setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan
menjaga ibu dan ayah di sini."
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku
mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen
pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut, la bersikeras
memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari. adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah
kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.
Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya,
saya menggerutu. "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer
tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini.
Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau
mendengar kami sebelumnya?"
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.
"Pikirkan kakak ipar --ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak
berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa
yang akan dikirimkan?"
Mata suamiku dipenuhi air mata. dan kemudian keluar kata-kataku yang
sepatah-sepatah: 'Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku.
Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari
dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu
bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa
bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."
la melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan
tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun
yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam
untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari. Saya kehilangan
satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya,
la hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di
rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin
sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya
bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
baik kepadanya."
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan
perhatiannya kepadaku.
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang
yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan
yang paling berbahagia ini. di depan kerumunan perayaan ini. air mata
bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
Selengkapnya...

Sabtu, 19 Juni 2010

Mengapa Harus Berteriak??

Anda mungkin pernah berteriak kepada pasangan anda,taukan anda apa yang sebenarnya terjadi sewaktu anda
melakukan hal tersebut.
Saya ada sedikit cerita yang berhubungan dengan hal tersebut,yang saya harapka dapat membuat kita mengerti
atas apa yang telah kita lakukan tersebut.

Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya;
"Mengapa suatu ketika seseorang sedang dalam keadaan marah,ia akan bicara dengan suara kuat atau
berteriak?"

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab:"karena saat seperti itu
ia telah kehilangan kesabaran,karen itu ia berteriak.'
'tapi..',sang guru balik bertanya,"lawan bicaranya justru berada disampingnya.Mengapa harus berteriak?
Apakah ia tidak dapat berbicara secara halus?"

Hampir semua murid meneriakan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka.Namun tak
satupun jawaban yang memuaskan.Sang guru lalu berkata;"Ketika dua orang sedang berada dalam situasi
kemarahan,jarak antara kedua dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat.
Karena itu,untuk mencapai jarak yang demikian,mereka harus berteriak.

Namun anehnya,semakin keras mereka berteriak,semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya
jarak hati yang ada diantara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi.Karena itu,untuk mencapai jarak yang demikian,
mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."


Sang guru masih melanjutkan,"sebaliknya apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta?
Mereka bukan hanya tidak berteriak,namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka
begitu halus dan kecil.Namu sehalus apapun,kedua bisa mendengarkannya dengan begitu jelas.


Mengapa demikian?"Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya.
Mereka nampak berpikir amat dalam,namun tak satupun berani memberikan jawaban."Karena hati mereka begitu
dekat,hati mereka begitu dekat,hati mereka tak berjarak.Pada akhirnya sepatah kata pun tak perlu diucapkan.
Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."

Sang guru masih melanjutkan,"Ketika anda sedang dilanda kemarahan,janganlah hatimu menciptakan jarak.
Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata-kata yang bisa mendatangkan jarak di antara kamu.Mungkin
disaaat seperti itu,tak mengucapkan cara yang bijaksana.Karena waktu psti akan membantu anda."

Sobat/bro/ma men/apalah,saya juga pernah membaca sebuah artikel tentang sebuah pulau terpencil yang dimana
penduduknya mempunyai sebuah kebiasan unik yaitu ketika ada sebuah pohon yang tidak bisa ditebangi
maka mereka akan meneriaki pohon tersebut selama beberapa hari,maka dengan ajaib pohon tersebut akan dengan
mudah ditumbangi.

Dengan kata lain,ketika kita berteriak kepada makhluk maka akan secara perlahan sebenarnya kita telah membunuh roh
makhluk tersebut,seperti pohon di pulau tadi..

Jika anda pernah meneriaki/membentak istri atau orang yang anda cintai maka yakinlah bahwa anda sedang dalam proses
membunuh toh percintaan anda..

Wassalam
Selengkapnya...

Senin, 14 Juni 2010

Jika istri menolak berhijab

Teman saya pernah menanyakan ke saya,bagaimana ya kalau saya besok menika dengan pacar saya sekarang
yang sekarang ini,namun sampe sekarang dia belum mau memakai jilbab atau berhijab,saya takut nya dia
tetap tidak mau memakai jilbab walau sudah menikah dengan saya..

Memang,bagi sebgian besar suami atau calon suami yang untuk menjaga keluarga dari siksa api neraka
sebagaimana amanah yang dibebankan Allah kepada bapak sebagai suami dan pemimpin dalam rumah tangga
hal ini sangatlah mengganggu pikiran mereka..Semoga orang-orang seperti inilah yang akan banyak muncul
ditengah carut-marutnya zaman sekarang..Aminn..

Mungkin akan sangat susah kita melakukan hal yang ditanyakan tersebut diatas,karena menjalankan perintah
agama tidak disertai oleh kesadaran dan keikhlasan rasanya memang berat,bahkan sangat berat. Kenikmatan
dalam menjalankan perintah agama akan dapat dirasakan jika hati sudah tunduk kepada Allah.Jika demikian
maka tak perlu lagi orang lain untuk meminta kita untuk menjalankan perintah-Nya, namun hati kita sendiri
yang jadi penjaga kita dalam beribadah.

Berdasarkan prinsip tersebut, maka meminta seseorang untuk menjalankan perintah Allah yang terbaik adalah
dengan menyentuh hatinya sebelum memerintahkannya atau menunjukkan kepadanya kewajiban dalam beragama.
Dalam hal ini memang akan dituntut kesabaran bagi mereka yang hendak mendakwahi orang lain, karena hidayah
Allah SWT pada hati seseorang tak bisa diukur dengan waktu.


Mungkin saran terbaik yang dapat diberikan adalah istri kita terlebih dahulu haruslah kaffah dalam
menjalankan agama islam.Maka karena itu tuntunlah dulu hatinya di jalan Allah. Bimbinglah keluarga
kita untuk lebih dekat dengan agama. Selain menjalankan ibadah berjama'ah di rumah, maka aturlah
jadwal untuk menghadiri pengajian bersama atau undang ahli agama ke rumah kita,lakukan hal tersebut secara berkala.
Bagi isteri kita akan lebih baik juga jika didekatkan dengan lingkungan wanita muslimah yang sudah
berjilbab, karena lingkungan juga besar pengaruhnya bagi perubahan perilaku.

Dengan pendekatan yang instensif dengan agama, keteladan serta doa yang kita penjatkan, semoga hidayah
Allah SWT pun segera datang kepada isteri kita. Jika segala usaha kita sudah lakukan dan isteri tetap
menolak maka kita tidak bertanggung jawab terhadap isteri di hadapan Allah, karena kita sudah berusaha
membawanya ke jalan Allah dan jika tidak digubris maka menjadi pilihan isteridan tanggung jawabnya
sendiri kelak di hadapan Allah,namun kita tidak boleh menyerah begitu saja,walaupun di akhirat besok
dia sendiri yang akan menanggung perbuatannya,kita sebagai suami tentu tidak tega donk..Ya kan,apalagi
dulu sewaktu belom menikah kita sudah berjanji selalu bersama-sama baik di dunia maupun diakhirat...Ya kan..

Sekian dulu postingannya..
Wassalam...


Selengkapnya...

Jumat, 11 Juni 2010

Hasbunallah wa ni’mal wakiil

Seringkali kita cemas akan sesuatu seringkali pula kita khawatir dan takut pad makhluk..
Padahal kita tau,kita dan makhluk yang kita takuti itu adalah sama-sama diciptakan oleh Allah SWT.
Simak baik-baik postingan saya kali ini alau anda masih merasakan hal yang seperti demikian diatas.

Mengapa harus cemas, mengapa harus takut, mengapa harus khawatir?
Bukankah ada Allah SWT yang menjadi penolong dan pelindung kita? Seperti
yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya saat perang Uhud
dimana masukan kafir sudah bersiap menyerang, perkataan yang keluar dari
mereka ialah hasbunallah wa ni’mal wakil.

Kita adalah makhluq lemah, kita tidak memiliki kekuatan. Kekuatan hanya milik
Allah Yang Mahakuat, maka serahkanlah segara urusan kepada-Nya. Karena
siapa lagi yang mampu menolong dan menjadi pelindung untuk segala urusan
kita selain Allah? Insya Allah jika kita bertawakal ke Allah SWT, maka Dia akan
menjadi Penolong dan Pelindung kita.
Setelah merenungi ayat ini, tidak lagi kita perlu takut. Kita bisa melangkah di
muka bumi ini dengan langkah yang berani. Bukan berani karena rasa takabur
atau sombong, tetapi berani karena Allah menjadi Penolong dan Pelindung.
Siapa atau apa yang mampu mengalahkan kekuasaan-Nya? Tidak, tidak ada
sesuatu pun. Lalu mengapa kita harus takut, cemas, atau khawatir?
Kesusahan, bencana, kemiskinan, dan kesulitan lainnya adalah kecil dihadapan
Allah. Serahkanlah semuanya kepada Allah Yang Maha Kuat dan Maha Kaya
jika kita ingin mampu menghadapi kesusahan dan bencana.


Tidak perlu takut menghadapi musuh-musuh Allah saat berdakwah, sebab siapa yang mampu
mengalahkan Pelindung dan Penolong kita?
Tidak ada lagi alasan untuk takut, tidak alasan untuk tidak semangat, tidak
alasan untuk khawatir akan hari esok, sebab kita sebenarnya sudah memiliki
Pelindung dan Penolong. Mari kita jadikan kalimat “hasbunallah wa ni’mal wakiil”
sebagai semboyan hidup kita. Jika harta kita sedikit, hutang yang banyak,
maisyah yang terhambat, mengadulah kepada Penolong dan Pelindung kita.
Saat kita mau berdakwah, rintangan dan halangan selalu ada. Tetapi sekarang
hal ini tidak lagi bisa menjadi alasan kita untuk tidak berdakwah karena Allah
yang menjadi Pelindung dan Penolong kita. Tidak peduli musuh kita banyak.
Tidak peduli musuh kita kuat. Tidak peduli kita hanya sendiri. Jika Allah
Pelindung dan Penolong kita, semua musuh akan bisa dikalahkan. Tidak akan
yang mampu menahan kehendak Allah SWT.

(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada
orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan
pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka
perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah
Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung". Maka
mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka
tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah
mempunyai karunia yang besar. (QS. Ali “Imran:173-174).

Ingatlah Penolong dan Pelindung mu itu
Mengapa kita sering kali tetap khawatir dan takut? Mungkin karena kita sering
lupa bahwa kita memiliki Penolong dan Pelindung. Oleh karena itu kita harus
mengingat-Nya terus agar hati kita tenang. Tidak ada suatu pekerjaan yang bisa
membuat hati kita tenang selain kita mengingat-Nya.
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi
tenteram. (QS. Al Ra’d:28)
Bahkan saat kita menghadapi musuh perang, yang kita perlukan adalah
mengingat Allah agar kita bisa memenangkan perang tersebut.
Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh),
maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya
agar kamu beruntung. (QS Al Anfaal:45)

Hanya Allah-lah yang mampu memberikan ketengan kepada kita,
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka
berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada
dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi
balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (QS. Al
Fath:18)
Berjalanlah. Bertindaklah. Mencobalah. Sambil mengingat Penolong dan
Pelindung kita, bukan hanya ketenangan yang kita dapat, juga kemenangan.
Karena, Allah yang menghidupkan kita, yang mematikan kita, yang memberi
rezeki, yang menentukan apa yang terbaik bagi kita. Kenapa harus takut?
Sekarang, saatnya kita hidup dimuka bumi ini tanpa rasa khawatir,
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Yunus:62).

Selengkapnya...

Senin, 07 Juni 2010

KEARIFAN EMAS

Ada sebuah kisah yang sangat menarik untuk kita baca dan kita ambil hikmahnya.
Kisahnya adalah tentang seorang pemuda dan seorang sufi..


Alkisah Seorang pemuda mendatangi Zun-zun dan bertanya,"guru,saya tak mengerti
mengap orang seperti anda mesti berpakaian apa asanya,amat sangat sederhana.
Bukankah dimasa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu,bukan
hanya untuk penampilan melainkan juga untuk banyak tujuan lain.

Sang sufi tersenyum.Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya,
lalu berkata,"sobat muda,akan kujawab pertanyaanmu,tapi lebih dahulu lakukan
suatu hal untukku.Ambillah cincin ini dan bawalah kepasar diseberang sana.
Dan jual lah cincin ini dengan harga satu keping emas."

Melihat cincin Zun-zun yang kotor,pemuda tadi merasa ragu,"satu keping emas guru?
saya tidak yakin cincin ini bisa dijual dengan harga demikian."

"cobalah dulu sobat muda,siapa tahu kamu berhasil."



Pemuda itu pun bergegas ke pasar.Ia menawarkan cincin itu kepada pedaang kain,pedagang
sayur,penjual daging dan ikan,serta kepada yang lainnya.
Ternyata,tak seorang pun yang berani membeli seharga satu keping emas.
MEreka hanya erani menawarnya seharga satu keping perak.Tentu saja si pemuda
tidak berani menjualnya.Ia pun kembali ke padepokan Zun-zun dan melapor,"Guru,
tak seorangpun yang berani menawar lebih dari satu perak."

Zun-zun,sambil tersenyum arif berkata,"Sekaragn pergilah kamu ke toko emas
dibelakang jalan ini.Coba perlihatkan kepada pemilik toko disana.Jangan buka
harga,dengarkan saja berapa tawarannya."

Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud.Ia kembali kepada Zun-zun dan melapor,"guru,
ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sebenarnya dari cincin ini.
para pedagang emas disana menawarnya dengan harga seribu keping emas."

Rupanya cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh pedagang pasar."

Zun-zun tersenyum simpul sambil berujar lirih,"itulah jawaban atas pertanyaanmu
tadi sobat muda.Seseorang tidak bisa dinilai dari pakaiannya atau yang tampak dari kulit luarnya saja.
Hanya "para pedaang sayur,ikan daging di pasar" lah yang menilai demikian.Namun tidak bagi "pedagang emas.".

"Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang,hanya bisa dilihat dan dinilai
jika kita mampu melihat kedalam jiwa.Diperlukan kearifan untuk menjenguknya.Dan itu butuh proses wahai sobat
mudaku.Kita tidak bisa menilainya hanya dari tutur kata dan sikp yang kita dengar dan lihat sekls.
Karena seringkali yang kita sangka emas ternyaa loyang dan yang kita lihat loyang adalah emas".

Pasti kita semua pernah dengar istilah "jangan nilai barang dari covernya doang"..
Setelah membaca cerit diatas kita semua diharapkan mengerti apa maksud istilah tersebut..
Kadang kita melihat orang bersarung atau berjubah dengan pandangan heran,aneh dll,tapi begitu melihat
artis dengan pakaian yang wah dan kelakuan yang wah juga kita sangat
membanggakanya..
Padahal menurut cerita diatas yang memberikan penilaian seperti itu adalah
"pedagang di pasar",dan yang kita lihat dengan wah dan kita sanjung-sanjung tersebut ternyata
hanya sebuah loyang..

Selengkapnya...

  © Blogger template 'Ultimatum' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP